Tampilkan postingan dengan label https://anakcinamalaysia.blogspot.com/2020/12/live-die-then-what.html. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label https://anakcinamalaysia.blogspot.com/2020/12/live-die-then-what.html. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2020

LIve, Die, Then What?...Hidup, Wafat, Lantas Apa?...Live Again?

 


Selamat siang, hari ini saya akan menyinggung sedikit tentang pertanyaan hidup dan mati. Ini corat-caretan doang. Kini saya usah berusia kisaran jang bisa disebut lansia atau orang tua. Saya dalam ketakutan karena kondisi kesehatan saya mengancam dan menurut dokter ahli jantung saya, saya mengidap penyakit "aortic dissection" and juga "abdominal aortic aneurysm". Kedua-dua penyakit ini bisa dianggap penyakit jang sirius dan peluang saya untuk terus hidup amatlah tipis. Siapa diantara kita tidak ketakutan kapan menghadapi berita buruk seperti ini lho. Saya takut, takut dan sangat takut tentang ajal yang menunggu saya. Saya dilahirkan di Kota Malang, Jawa Timur dan sudah lama sangat saya tidak menjengok kampung halaman saya yang tercinta. Adakah ini jamak buat orang-orang jaman moderen ini. Saya rasa tidak...........Mencari nafkah dan rezeki sudah memulaukan saya dari akar hidup saya sejati. Kini permisis saya menceriterakan sedikit sebanyak perasaan dan emosi yang begitu kian memendam dalam hati sanubari saya.

Kondisi saya sekarang sekian lama semakin depresi. Tapi saya tetap tidak mau menemu Sp.Kj. karena luka saya amat mendalam. Kini biar saya bergeser kedalam bahasa inggris untuk melanjutkan ngomong saya.

 It has been a sixty-eight years of life in this world. Yet I wonder whether I have achieved anything of substance. And the resounding response that come back to my ears is NO. Have I then caused misery to others, and the answer that reaches my ears is YES. It has been good in some parts but by and large it has been a miserable life for me. The thing is generally I do not like people, nor am I interested in what they do or think.  Be it my pastor, my family, my friends (if I can think of any) or for that matter Kublai Khan himself. No I am not narcissistic either. In fact I have a very poor opinion of myself. Children for example strike me as a noisy and selfish lot. I was told when I was a kid, I had the character of Saint Michael. 

Tatkala saya duduk dipinggir meja bundar saya ini, terkilas balik saya rekan-rekan, rekan-sesekolah saya, famili saya, guru-guru dan dosen-dosen saya di sekolah dan universitas. Kebanyakan dari mereka sudah tutup usia. Ada yang wafat karena penyakit dan sebagian juga dari korban tewas kehendak Illahi dan juga ada yang meninggal karena sudah mencapai usia yang lanjut. Yang wafat alami saya rasa merekalah jang paling hoki (mujur, beruntung). Di negara saya kewafatan alami satu kurniaan dari Yang Maha Esa karena kita warga dan bangsa Indonesia sudah mewarisi bumi yang begitu mengganas dan mengancam. Rasain sedih kapan saya memikir kembali mereka yang sudah pulang kerahmatullah. Saya memikir kilas balik tatkala saya mengusahakan pabrik suku cadang buat pesawat kedirdantaraan. Bisa dikatakan saya ini pengolah dan penyalur suku cadang terkait untuk pesawat dari Amerika, Uni Soviet, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jepang dan India. Itulah riwayat saya 40 tahun yang silam. Kini saya sudah mengundur diri dan lantas memangkir dari semua tanggungjawab terkait perusahaan saya. Beban tugasan saya kini bergeser kepada  warisan-warisan saya dan mereka jang megelola segala urusan dan hal-hal jang terkait. Mereka setidaknya anak bawang dan harapan saya agar mereka bisa melonjakkan status perusahaan saya ke suatu klasemen yang lebih berprestasi. Buat saya mencukupilah klasemen saya jeblok ke tahap nara biasa saja. 

Jang penting buat saya bukannya yang bermateri tapi jang berohaniah, perihal kehendak Pencipta Al-Masih Yesus Kristus. Selama ini saya sungguh-sungguh berhajat naik sholat ke lahan Baitulqaddis atau Yerusalem tapi hoki saya masih belum ada atau tiba. Menetes air mata gue kapan terlintas dulu angkara-angkara yang pernah saya lakukan. Kini pada usia yang bisa dikatakan sudah hampir sampai liang lahat di sentiong jang menunggu ketibaan gue, waktu saya sudah terlalu mepet and saya pada detik-detik akhir ini cuma mau melasankan kewajipan saya sebagai kurniaan Illahi Yang Maha Esa. Amin raab al-Alamin.


Disusuli Bab 2 Coratan Gw:-

Sesudah santap malam baru sebentar tadi, saya amat bersyukur kepada Yang Illahi Esa karena menyediakan sesuap nasi untuk gue dan keluarga gue. Setinggi-tinggi junjung kepada Illahi Esa saya melimpahkan. Beliau murah hati menjaga kebaikan dan keselamatan hidup saya dan famili saya. Gue kagak terkata apa-apa terhadap Nya yang begitu murah hati kepada seorang nara  yang berdosa. Tapi saya sudah berjanjiakan bertobat dan menjauhi dari segala perkara dan selingkuh yang memalukan. kendatipun saya tua dongkol atau ngambek, saya engga lupa akan janji saya nih.

Coratan Ketiga:

Hari ini merupakan hari Natal dan besok kita yang beragama nasrani akan meraikan kelahiran Yesus Kristus, Pencipta Alam Semesta, Raja kepada yang kesat mata dan yang enggak kesat mata, Raja kepada Yang di Atas dan juga Yang dibawah dan Raja Segala-galanya. Ini kesaksian saya kepada dunia yang masih belum ketahuinya. Sekarang saya digolongkan dalam kalangan sepuh dan juga sesepuhan. Saya melaksanakan tanggungjawab saya kini sebagai kasepuhan kepada keluarga saya dan rekan-rekan yang masih mentah dan belum matang. Ini kesaksian saya kepada dunia.

Coratan Keempat

Waktu Natal sudah hampir tamat tinggal lagi tiga jam. Teman-teman saya di Amerika Serikat akan mulai meraikan Hari Mulia ini tidak lama lagi. Teman saya bernama Sara Cornelius di Utah ngomong dengan saya kemaren bahwa dia sedang menanti ketibaan natal dengan hati yang berdetak-detak kuat macam gendang di palu. Kita dari keberagaman bangsa yang amat luas. Inilah satu tanda bukti bahwa segala-galanya bisa mungkin dengan Illahi Esa kita. Saya rasa sedih karena kesehatan saya tidak seperti yang dulu. Saya risau tidak dapat melihat dan berbagi hidup saya dengan cucu-cucu saya yang sedang membesar. Apakah kan daya, ini semuanya kehendak Illahi Esa kita. Namun demikian saya tetap sedih dan tidak dapat menghindari dari perasaan sesal karena usia saya tidak akan menjangkau waktu yang panjang. Kini sudah Haples satu, besok akan haples dua dan seterusnya. 

Permisi saya bergeser ke bahasa inggris untuk meneruskan ngomongan ini. 

When I think back on my life and the many friends that I have lost (all through my own fault alone and no one else's), I am sad and equally fearful that i do not stand a ghost of a chance to be with my Lord Jesus when I exit this world. So much i want to be with Him but I know the sins and dirt that I carry in my heart will not qualify me for that privileged position. I am sad also that i will not get to see my two young grandsons growning up, going to school, graduating from college and getting married......and to be able to carry my great grandchild in my arms. Already I feel the life force ebbing from my body, and I have to catch my breath every now and then. I am only 67, not 87. You see the irony.It is now past 11 pm on Christmas night. It was like any other ordinary day. There were no presents and parties, no guests, simply because we did not have the money.It has been like this for many years. I cry my heart out for my grandsons. What will become of them. I pray and I beg as a sinful mortal and earthly father would, that my Heavenly Father would see to it that my progeny and their progeny are amply provided for. This is is hope and fervent prayer. Amin.

I know and very well aware of what social influencers in various forms and texture want and need. They want views, they want likes and they want to be noticed and heard. What does all this translate to, yes, the age old, ancient and time-proven booty of cash. The more people take notice of you the more opportunities will come your way to increase your bank balance. You may think me and rightfully so, stupid, when I say to you I have been there.........and it is an lonely and empty, meaningless life. Jesus used the analogy of the eye of a needle, nothing could be truer than that simple analogy. Money wont make you think of your Creator, not in the way that you should think anyway. You think of your Creator as your benefactor or money-churning engine. Does any religion ask you to accumulate worldly goods, the sad reality is, there are religions who ask you to build up your knowledge and worldly possessions. I would not name them, I think you guys are smart to identify who these groups of people are. What profiteth a man, if his backside is taken away by the devil...well some humor wont hurt anyway isn't it? But 99.99999..............of the world is like that. 

 















 














Yohannes Pasal 15 Ayat 1 - 27 Central Theme - You can do NOTHING without ME

The True Vine 15 “I am the true vine, and My Father is the vinedresser. 2 Every branch in Me that does not bear fruit He [a]takes away; and ...